Kamis, 10 Oktober 2013

Semua Ada Masanya

Masih soal waktu. Ia terus merambat, kadang terasa pelan terkadang pula seolah cepat. Ia terus berlalu. Mengantarkan kita pada sebuah titik yang kita belum pernah berhenti di sana. Ya, kadang ia melesat begitu cepat hingga kita merasa telah melewatkan banyak hal. Kadang pula ia terasa menjemukan, berjalan begitu pelan tak segera mengantarkan kita pada saat-saat yang kita tunggu. Pada sesuatu yang kita nanti-nantikan.

Kita punya impian di waktu yang lain. Dengan penuh percaya diri kita merasa sanggup meraih apa yang ingin kita raih. Membayangkan menggenggam apa yang menjadi keinginan. Layak kita berbangga, rasa itu ada. Tak ada yang salah, rasa itu memang harus kita punya!.

Hanya saja kita tak pernah menyadari, seringkali kita merasa berkuasa atas waktu yang kita lalui. Merasa lebih kuat melebihi apa yang kita duga, karena telah sampai pada titik di mana sekarang kita berdiri.

Sementara di waktu yang lain pula, ketika apa yang kita harapkan, menghindar dari yang telah kita perhitungkan. Meski sekuat apapun kita berusaha meraih tiap ingin, merengkuh tiap harap, terkadang apa yang kita kehendaki tak seperti yang telah kita bayangkan. Nampak tergambar begitu jelas hingga kita merasa mampu menggenggam meski dengan mata terpejam, namun sedikitpun tak terjamah oleh kita. Hingga pada akhirnya kita merasa rapuh dan harus mengeluh karena merasa kalah. Membuat kita lupa goresan tinta yang telah menjadi titah.

Sayangnya, kita tak bisa mengulang atas waktu yang berlalu. Kita hanya memiliki kesempatan untuk belajar darinya. Sedikit menengok seolah memutarnya kembali. Dari tempat-tempat yang telah kita singgahi. Dari tiap orang yang kita temui. Dari langkah kita menyisir tiap waktu, yang menyimpan jejak di tiap masa. Menemani kita meresapi resah, hingga kita merasa yakin tak akan jatuh pada lubang yang sama.

Hingga suatu kali, barangkali kita harus merasa yakin, semua ada masanya. Di suatu waktu, kita merasa tak ada yang perlu dipaksakan. Dan kembali merasa, semua ada masanya.

Mencari, apa yang dicari?
Menunggu, apa yang ditunggu?
Aku merasa dikejar waktu..... *lirik lagu Iwan Fals

IBU





Ini semua tentang bagaimana ibu mencintaiku dan bagaimana aku mencintai beliau.
ibuku satu. akulah satu - satunya anak lelakimu..
anak lelaki yang akan selalu mencintaimu.

IBU : wahyu, kalau keluar jangan pulang malam - malam. cepat pulang !!!
MEREKA : ah, ibumu cerewet banget. kita kan masih muda. usia yang tepat untuk menaklukkan dunia. pulang subuh pun tak apa !!!
TERJEMAHANKU : ibu mengingatkanku agar segera tidur. menyambut dini hari dengan mohon ampun kepada ALLAH SWT. melalui sujud malam yang bisa ringankan beban. hal yang sama seperti yang ibu lakukan setiap malam untukku.

IBU : wahyu, makan dulu sebelum keluar. isi perutmu biar kenyang...
MEREKA : ayolah yu, ngapain pakai acara makan dirumah ??? enakan juga masakan restoran.
TERJEMAHANKU : ibu menyuruhku makan dulu karena beliau sangat khawatir. khawatir bahwa masakan restoran tidak sehat, yaaa tidak sesehat yang beliau sajikan meskipun sederhana. ibu tak mau aku kenapa - kenapa. Dan ibu, masakanmu adalah yang ternikmat didunia sepanjang waktu !!!

IBU : wahyu, ibu buatkan kopi ya ?
MEREKA : ah, ayo ngopi yu !!! kita ketawa bareng !!! dirumah ngapain ?? mbosenin !!!
TERJEMAHANKU : ibu menasehatiku agar menghemat uang. meskipun rasanya beliau sudah tidak berhak. tapi HEY !!! ibu tau aku payah mengatur uang. terlebih ibu ingin minum kopi bersama dan ingin mendengarkanku lepaskan beban.

IBU : wahyu, arti tulisan ini apa ???
MEREKA : ah, ibumu katrok. masa tulisan seperti itu saja enggak bisa diartikan sendiri. payah ah !!!
TERJEMAHANKU : ibu ingin aku memperhatikannya. ibu ingin aku menjelaskan kepadanya. ibu ingin melihatku masih sabar atau sudah bosan mendengarkannya memulai pembicaraan.

IBU : wahyu, ganti channelnya ke sinetron itu ya ??
MEREKA : ah, hari gini masih nonton sinetron ?? gimana mau maju??? ayo ikut kami !!!
TERJEMAHANKU : ya itulah hiburan ibuku.. sekaligus mengingatkanku melalui episode demi episode yang kami nikmati bersama. hidup itu drama, hidup itu sinetron. dan percaya atau tidak. aku dan mungkin juga kamu pernah dan akan mengalaminya. ibu mengingatkanku agar waspada terhadap "ketidak-amanan" nya dunia.

dan ibu, selalu seperti itu. ibuku !!! ku cari surga di telapak kakimu, selalu !!!
anakmu yang mencintaimu. sampai kapanpun. selalu.
 "ibu adalah malaikat berwujud manusia"